Sabtu, 09 November 2019

Niaga One


Pernah nonton konser? Atau pernah jalan-jalan ke pasar? Atau ke tempat-tempat wisata?
Saya yakin, 99,99% kamu bisa dipastikan pernah berkunjung ke tempat-tempat keramaian.
Nah bukan hal yang asing lagi dikerumunan masa seperti itu, di tempat-tempat ramai seperti itu ada yang namanya penjaja jualan makanan atau minuman. Ada yang keliling ada yang buka lapak-lapak baik gelar tikar atau pasang meja tenda.
Sebagian besar orang tidak kenal sama sang Penjualnya, mungkin bisa jadi ada sebagiannya yang kenal, karena tetangganya atau dulu teman sekolah/kerjanya atau pernah ketemu dimana begitu. Pun sebaliknya, penjual tak kenal sama calon pembelinya. Hal yang biasa, wajar, lumrah.
Ada yang pas kita lewat nawarin ke kita, "minumnya mas/mba". Sebagian orang cuek saja, ada yang bilang terimakasih ke si penjualnya. Ada penjual yang santui, asyik ngobrol sana-sini. Main gadget. Pun dengan orang-orang yang lewat dengan ke sok sibukannya. Atau memang benar-benar lagi serius.
Namanya juga orang lewat, biarlah lewat. Syukur-syukur saling senyum, saling sapa. Bahkan saling jual beli, saling bermanfaat. Ketika toh nggak ada jual beli, nggak ada yang untung. Namanya juga orang lewat.
.
.
.
Bagi sang penjual, hal ini biasa. Karena dari latihan mentalnya selama jualan, si penjual tahu memang ada orang yang butuh ada orang yang tidak. Tipe-tipe orang itu beda-beda, si penjual paham hal ini. Ada orang yang malu-malu, mager, ini jadi market si penjaja yang keliling-keliling. Bisa jadi tadinya nggak butuh, tapi karena dia lewat jadi sadar dia perlu minum. Bisa jadi tahu dia butuh, tapi nggak tahu belinya dimana. Kehadiran penjajak minum-makanan ini bisa jadi bak malaikat.
Bagi mereka yang tak saling kenal, cuek satu sama lain itu hal yang wajar lha wong nggak kenal. Tapi senyum boleh kan ya? Senyumlah kalian, ucapin terimakasihlah kalian jika memang belum butuh apa yang mereka tawarkan.
Ada rasa nggak enak, bisa jadi. Buat mereka yang saling kenal. Beli karena nggak enakan sama si penjual. Atau malah si penjual yang nggak mau dibayar karena kawan karib. Ini wajar, sangat wajar. Tapi se enggaknya profesional lah jadi penjual dan pembeli. Sama-sama tahu.
Ini yang sebaiknya dihindari, merasa risih karena dijuali, ditawari.
"Ya, sekiranya kamu belum butuh dengan produk temanmu, ya dibawa santui saja. Jangan merasa risih. Kan kamu nggak tahu ada alasan mulia/hebaat apa dibalik produk/jasa temenmu itu."
Yang jualan, juga nggak usah baper juga. Jika ada yang menolak, ya husnudzan saja calon buyer bukan cuma dia ada banyak lagi orang lewat yang lain. Do'akan kemuliaan buat temanmu itu.
Sekiranya belum butuh, wong tahu temannya jualan. Kalau ada kawan/saudara yang lain mbok iya o, dibantu rekomendasiin. Bisa jadi amal, bahkan memungkinkan bisa jadi rezeki juga, insyaa Allah.
Tetep jalin, hubungan baik. Jangan karena nggak suka dijuali terus jadi nggak berteman. Yang jualan juga, nggak usah maksa-maksa juga. Jualan itu yang elegan bnanyak lah. Hehe... Belajar bagaimana nawarin yang baik, teknik promosi yang baik. Buanyak sekali berseliweran di medsos, digoogle asal mau nyari. Hahay...
Meskipun kamu tahu, produknya itu luar biasa keren skekalipun. Tetep jaga hubungan baik. Jangan rusak hubungan baik yang ada. Nggak gampang lho nyambung tali layangan yang putus.
Biarlah iklan diteve itu lewat. Beri jalan, beri waktu. Biarlah mereka/kita mencari jalur rezekinya.
Jangan karena terlanjur malu, jualannya nggak dibeli. Terus putus kontak. Jangan sampai. #BeraniDewasaHebaat
Intermezo, sambil ngopi.
Nabi Muhammad SAW Jualan. artis banyak juga yang jualan, orang kaya juga jualan, pejabat jualan ya ada. Kalau Kamu mau beli pulsa saja susah. Jualan sana...!!!
Udaaah, Jualan sana...
Jualan sini ...
Open keagenan, British propolis.
Wa.me/6281393153398

Buka Pintunya



tips simple juaralan,

terus saja tawarkan, suatu saat ada yang mau buka pintunya. Insyaa Allah.
yakin dan terus asah kemampuan menggedornya. kemampuan postingnya, keahlian closingnya, kehebaatan ngiklannya.

oke siap???  yuk gedor-gedor.

Kamis, 18 Mei 2017

KISAH NYATA PENUH MAKNA

KISAH NYATA PENUH MAKNA
Oleh : Dewa Eka Prayoga
Entah kenapa, Saya selalu iri dengan mereka yang punya penghasilan Miliyaran per Bulan dan dengannya mereka bisa sedekah jor-joran tanpa hitung2an. MasyaAllah... Iri banget!
Dulu pas di Medan, ada salah satu peserta training bapak2 yang perawakannya muda banget.
Di belakang, dia ngajak ngobrol dan ngajak ketemuan nanti malam di tempat hotel Saya menginap.
Malamnya, Saya turun dari kamar hotel ke lobi. Eh ternyata, bapak2 ini udah nongkrong dan nungguin. Kaosan, celana jeans.
Lalu dia ngajak Saya keluar,
"Kang, keluar yuk... Jangan disini ngobrolnya".
Saya pikir, kenapa enggak, yasudah... Yuk ah!
Di mobil, Saya ngobrol banyak. Tapi masih tahap perkenalan dan basa basi. Biasalah, building rapport dll.
Gak kerasa, nyampe deh tempat makan
Nah, di tempat makan inilah obrolan serius muncul...
Ternyata, restoran tempat makan tersebut adalah miliknya. Wow! Luas banget..:
Iseng Saya tanya,
"Udah berapa lama pak?"
Jawab:
Oh, kalau yang ini baru-baru ini kok kang, belum nyampe setahun..
Wah, Saya penasaran, kok jawabannya ada "yang ini" nya, berarti asumsinya ada yang lain. Hehe
Langsung Saya kepo,
"Kalau yang lain pak?"
Jawab:
Kalau rumah sakit, udah cukup lama. Robotik, lumayan juga. Madrasah, dari awal Saya bisnis. Hotel, juga udah lama sih.Ini orang bukan orang sembarangan.
Sambil terkaget2, Saya bilang,
"Pak, banyak amat bisnisnya..."
Sembari bercanda, dia bilang,
"Ah, enggak ah kang, biasa aja. Hobi Saya sebenernya ngajar. Saya lulusan Al-Azhar Kairo..."
Yassalam...
Makin kepo nih Saya.
Langsung Saya bilang,
"Kalau lulusan Al-Azhar, hafidz Quran dong pak?"
Jawab:
Ya Alhamdulillah... Bisnis cuma selingan aja.
Dalam hati,
"Wah ini orang assem tenan..."
Tapi dalam konotasi baik ya.. ^_^
Akhirnya kami ngobrol panjang lebar sampai tengah malam. Asyik banget lah pokoknya.
Saya banyak belajar dari bapak satu ini. Sederhana, pemikiran dan prestasinya luar biasa!
Salah satu pesan dia ke Saya ketika itu, begini kurang lebih,
"Kang, jangan pernah tinggalkan Al-Quran. Jaga Al-Quran. Sebisa mungkin setiap hari membaca dan mengkajinya..."
Allah ya rabb.. nyess di hati!
Saya gak puas. Minta wejangan lagi,
"Ada lagi gak stadz?" (Saya tiba2 manggil dia ustadz)
Jawab:
Satu lagi, jangan pernah ragu untuk sedekah banyak. Saran Saya, nanti akang setiap hari Jum'at coba bagi2 nasi untuk orang2 gak mampu di kota akang. Kenapa harus nasi? Saya ngajar tafsir. Kalau Saya jelasin alasannya, ini jelasinnya bisa sampai pagi kang. Pokoknya ikutin aja lah... hehe
Saya nurut. Sami'na wa atho'na ke Guru, selama ajarannya bener.
Sepulang ke Bandung, Wejangan dia Saya praktekkan hingga beberapa bulan kedepan. Hasilnya emang ajaib! Gak bisa diungkapkan dengan kata2... Mas Mirza G. Indralaksana saksinya.
Salutnya Saya, selain bisnisnya banyak dan besar2, gak pernah berhenti berbagi (harta maupun ilmu)
Nah, Saya iri sama orang macam begini... Kepengen deh kaya dia. Allah..
Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak diperbolehkan iri dan dengki, kecuali pada dua perkara. Pertama, seseorang yang diberi Allah harta kekayaan lalu ia menghabiskan harta kekayaan itu pada jalan yang benar. Kedua, seseorang yang diberi ilmu lalu ia mengamalkanya dan mengajarkannya pada orang lain" (HR. Muslim)
Jadi, iri sama orang macam begitu, gak apa2 ternyata dalam Islam...
Semoga sharing singkat Saya ini, bermanfaat untuk kawan2 semua. Aamiin..
Oh ya, hotel tempat tinggal Saya saat itu, bintang 5, ternyata milik dia juga.😲 Pantesan kok resepsionisnya kaya manut2 ke dia.


Semoga Bermanfaat.